oleh

MENENUN PULANG DI TANAH RANTAU – Refleksi atas Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Tidore Jabodetabek


​Pertemuan di Bangi Kopi nanti pada 24 oktober siang itu—dengan segala kesederhanaannya—menjadi semacam “pelipur lara.”

Di sana, di antara gelas-gelas kopi yang mengepul dan tertawa yang pecah dalam dialek lokal tidore yang akrab, kita sedang meminjam sepotong rumah untuk dibawa pulang ke dalam dada.

Kita sedang merayakan apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai “solidaritas organik” ikatan yang lahir bukan karena kedekatan teritorial, tapi karena kesadaran sejarah yang sama.

​Kita menatap wajah-wajah saudara kita sesama perantau. Kita melihat guratan lelah di kening saudara kita, sekaligus binar kehangatan yang mengingatkan kita pada senyum orang-orang di kampung.

Baca Juga  Akan kah Jokowi melaporkan Denny DKK dan MK ke Polisi karena telah menghina Gibran? — Oleh: Muslim Arbi /Pengamat

Di sanalah kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Bahwa di balik hiruk-pikuk kota yang asing ini, ada jaringan tak kasat mata yang menopang kita agar tidak jatuh terjerembab ke dalam jurang alienasi modern.

​Anak-anak muda kita—yang mungkin lahir dan besar di Jabodetabek, yang akrab dengan layar hp dan bahasa metropolitan—perlu melihat ini.

Bahwa identitas bukanlah sesuatu yang selesai hanya dengan memiliki KTP Ibu Kota.

Baca Juga  CATATAN REDAKSI ! MBG, Strategi SDM dan Kemandirian Bangsa: Saat Piring Anak Sekolah Jadi Mesin Ekonomi Lokal

Identitas adalah sebuah “ziarah batin.” Ia harus dirawat, diceritakan kembali, dan dihidupkan melalui perjumpaan-perjumpaan yang tulus.

​Bahwa di dalam darah mereka mengalir sejarah para pelaut ulung dan tangguh, para penjaga tradisi, dan orang-orang yang terbiasa menatap luasnya samudra tanpa rasa takut.

-000-

​Pada akhirnya, silaturahmi ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang sunyi. Perlawanan “terhadap lupa.” Perlawanan terhadap dunia modern yang ingin mereduksi manusia sekadar menjadi angka-angka statistik di perkotaan.

Baca Juga  PURBAYA Vs OLIGARKI — Oleh Aswir Hadi., SE., ME (Dosen Senior FEB - Unkhair)

​Hari Sabtu itu, di lantai dua “Bangi Kopi,” kita tidak sedang merayakan jarak. Kita sedang merayakan kenyataan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, kita tetaplah bagian dari “satu pohon besar” yang akarnya menghunjam jauh di tanah Tidore.

​Dan di dunia yang kian bising ini, menemukan seseorang yang sudi memanggil kita “basudara” adalah kemewahan yang paling tak ternilai harganya.

Tabea Malape Tabea, Suba Jou ! (**)
—

Ciputat, 20 Oktober 2026
Pukul: 20:07

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *