oleh

Hilirisasi Nikel: Pusat Petik Emas, Halmahera Panen Limbah. — Oleh: Dr. Saiful Ahmad (Akademisi dan Pengamat Politik Kebijakan Publik).


 

​Pelepasan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan peresmian 11 ekosistem hilirisasi nikel bernilai USD10,2 miliar oleh Presiden Prabowo Subianto di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, disambut tepuk tangan riuh pasar global. Angka investasinya fantastis, menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja, dan mengukuhkan posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau dunia.

Baca Juga  Maluku Utara Antara Federasi, Monarki, atau Otonomi Khusus ?

​Namun, jika kita menanggalkan kacamata megah Jakarta dan melihat langsung bumi Halmahera, tersaji kontras yang menohok: Pusat memetik emasnya, sementara daerah memanen limbahnya.

​Ketimpangan Struktural dan “Kutukan Sumber Daya”.

​Di balik jargon pertumbuhan makro, ada realitas sosial yang timpang. Janji penyerapan tenaga kerja lokal kerap terganjal jurang kualifikasi (skill mismatch). Pemuda lokal Halmahera maupun Maluku Utara dominan mengisi pekerjaan kasar berrisiko tinggi (unskilled labor), sedangkan posisi manajerial dan teknis spesialis diboyong dari luar. Di saat bersamaan, nelayan tradisional harus berlayar lebih jauh karena wilayah tangkapnya tercemar, dan petani menyaksikan ruang hidupnya tergerus pembukaan lahan masif.
​Kondisi ini adalah cermin sempurna dari teori Resource Curse atau “Kutukan Sumber Daya” (Auty, 1993). Daerah yang melimpah kekayaan alamnya justru rentan mengalami kemunduran kualitas hidup dan kerentanan lingkungan apabila pembangunan dieksekusi secara sentralistis tanpa tata kelola yang inklusif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *