Oleh: M.Guntur Alting
ADA satu hal menarik saat membaca kabar dari Jakarta hari kemarin.
Rocky Gerung—pria yang bertahun-tahun dikenal sebagai kritikus yang rajin melemparkan amunisi kata-kata dari mimbar-mimbar debat—kini resmi mengenakan jas dan melangkah masuk ke koridor Istana.
Ia resmi dilantik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Bagi mereka yang kerap mengikuti narasi “akal sehat” dan petikan filsafat yang saban hari ia lontarkan, peristiwa ini mungkin terasa seperti plot twist dalam sebuah novel.
Banyak orang kaget, kecewa, atau setidaknya bertanya-tanya: mengapa sang pejalan sunyi di jalan kritik itu kini memilih duduk di lingkar dalam kekuasaan?
Namun, jika kita membaca kembali teks klasik politik, peristiwa seperti ini sejatinya bukanlah hal yang benar-benar baru.
-000-
Dulu, Niccolò Machiavelli menulis “The Prince” bukan hanya dari balik meja studi yang tenang, melainkan dari pengalamannya berkeliling di lorong-lorong kekuasaan Florence.
Machiavelli mengajarkan kita satu hal jernih: arena politik selalu bergerak menurut kalkulasi kepentingan.













Komentar