“Pangan, ikan segar, hasil kebun, obat, kebutuhan rumah tangga bergerak dalam volume kecil tapi frekuensi tinggi. Tanpa sub-hub intrawilayah, pelabuhan besar hanya jadi pintu keluar produk industri dan pintu masuk barang dari luar,” tegas Kamal.
Ukurannya bukan panjang dermaga. Tapi apakah harga beras, telur, BBM, sayur di pulau kecil jadi lebih stabil. Apakah ikan nelayan lebih cepat sampai pasar. Infrastruktur baru bernilai publik kalau memperluas akses ke kebutuhan dasar.
Ketahanan Pangan & Energi: Disandera Kapal
Ketahanan pangan Malut sangat tergantung jadwal kapal. Beras, telur, ayam, gula, minyak, sayur masih impor dari luar pulau. Begitu kapal telat atau cuaca buruk, harga langsung meledak.
Hal yang sama terjadi di energi. Industri butuh listrik besar dan stabil. Rumah tangga, puskesmas, cold storage ikan, UMKM juga butuh. Tapi sistem masih terpusat dan bergantung fosil.
“Gangguan energi dapat menghentikan produksi es, rantai dingin, pengolahan ikan, usaha kuliner. Energi terbarukan skala pulau seperti surya dan mikrohidro harus jadi bagian strategi, bukan hanya proyek mercusuar,” jelas Kamal.
Weda-Obi Kaya, Petani Lokal Jadi Penonton
Paradoks terbesar ada di kawasan industri. Ribuan pekerja di Weda dan Obi butuh makan tiap hari. Seharusnya ini jadi pasar jangkar bagi petani, nelayan, peternak Malut.
Faktanya, perusahaan lebih mudah impor dari jaringan pemasok besar di luar provinsi.
“Peluang tersebut akan hilang bila perusahaan lebih mudah membeli barang dari luar. Pemerintah perlu membangun mekanisme pengadaan lokal yang bertahap dan transparan,” ujar Kamal.









Komentar