Nama Azizah Nurul Izzah terilhami dari persahabatan saya dengan Dato’ Seri Anwar Ibrahim, yang kini mengemban amanah sebagai Perdana Menteri Malaysia. Bertahun-tahun silam saya berkantor di Malaysia, menjadi Wasekjen Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara
(PEMIAT). Di organisasi kepemudaan ini, Dato’ Seri Anwar Ibrahim sebagai pembina. Saya mengagumi nama putri beliau. Namanya begitu indah, Nurul Izzah. Cahaya kemuliaan.
Maka saya dawamkan nama itu sebagai doa, agar cahaya kemuliaan senantiasa menyertai perjalanan hidup putri saya.
Allah benar-benar meninggikan nama Nurul Izzah. Caranya tak pernah saya bayangkan. Nama Nurul Izzah bukan lagi sekadar nama seorang anak. Sejak tahun 2010, Ia telah menjadi nama masjid di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM). Lembaga pendidikan yang kami dirikan sebagai ikhtiar kecil berkontribusi membangun umat dan peradaban bangsa. Nurul Izzah menjadi jantung aktivitas pembinaan generasi muda di ICM yang datang dari berbagai daerah.
Sejujurnya, tidak pernah ada rencana muluk-muluk. Ia muncul karena keindahan. Ketika masjid itu membutuhkan sebuah nama, tidak ada diskusi panjang, tidak ada perdebatan. Entah mengapa, secara spontan hanya satu nama yang memenuhi ruang batin saya. Nurul Izzah.
Seolah Allah sendiri yang menuntun, mengabadikan cinta seorang ayah melalui rumah-Nya. Maka ketika adzan berkumandang dari masjid itu, ketika anak-anak belajar mengaji di dalamnya, ketika sujud-sujud panjang dihamparkan, saya berharap setiap doa yang terangkat ke langit menjadi hadiah yang terus mengalir untuk putri saya. Barangkali inilah cara Allah menghibur seorang ayah.
Mengubah air mata menjadi amal jariyah.
Mengubah kehilangan menjadi jalan pahala.
Mengubah seorang anak menjadi monumen cinta.









Komentar