Saya tahu, tidak ada kalimat yang mampu menghapus rasa kehilangan ini. Orang boleh berkata waktu akan menyembuhkan. Namun bagi saya, waktu tidak bisa benar-benar menghapus duka. Waktu hanya mengajarkan kita berdamai dengannya. Mengikhlaskannya.
Kini setiap kenangan bersama Nurul berkelindan dalam doa yang lirih. Mungkin, begitulah cinta bekerja. Ia tidak berhenti ketika kematian datang. Ia hanya berpindah bentuk.
Ya Allah, terimalah Nurul Izzah dalam keluasan rahmat-Mu. Jadikan sakit yang ia jalani sebagai penggugur dosa. Lapangkan kuburnya. Terangi alam barzakhnya. Tempatkan ia bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Izinkan kami kelak bertemu kembali, di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.
Bagi seorang ayah, cinta kepada anaknya tidak pernah berakhir di atas pusara. Ia hanya berubah. Kini dirapalkan menjadi doa yang tak pernah punya jeda. Innalillahi wainnailaihi raajiun. Segala yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah.
Di antara semua titipan yang pernah Allah anugerahkan, Nurul Izzah adalah salah satu karunia paling indah. Kini ia telah pulang. Tetapi cinta kepadanya tidak lekang. Selama masih ada hati yang mengingatnya. Selama masih ada doa yang menyebut namanya. Dan selama Masjid Nurul Izzah berdiri, menjadi tempat orang-orang bersujud kepada Allah, di sanalah cinta seorang ayah akan terus hidup, mengalir bersama setiap ayat yang dilantunkan bergemuruh menuju langit.









Komentar