oleh

BLOK MASELA: Akhirnya Presiden Prabowo Mengeksekusinya — Membangun Kedaulatan Migas melalui Spirit Pasal 33 UUD 1945


Lalu, apa pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari perjalanan panjang Blok Masela?

Menurut saya, jawabannya bukan semata-mata mengenai gas, LNG, atau investasi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa kekayaan sumber daya alam tidak akan otomatis menghadirkan kesejahteraan apabila tidak disertai tata kelola yang baik. Negara harus mampu membangun koordinasi antarlembaga, menjaga konsistensi kebijakan, menghormati hak masyarakat, memberikan kepastian kepada investor, serta memastikan bahwa setiap kebijakan strategis selalu diarahkan bagi kepentingan nasional.

Baca Juga  CATATAN RINGAN : SEMI FINAL PILDUN 2026 ARGENTINA VS INGGRIS FINAL DINI SARAT SENSASI

Di sinilah relevansi Pasal 33 UUD 1945 menemukan maknanya. Amanat bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara bukan sekadar norma hukum, melainkan filosofi dasar pembangunan Indonesia. Penguasaan oleh negara tidak boleh dimaknai sebatas kepemilikan formal, tetapi harus diwujudkan dalam kemampuan negara mengatur, mengelola, mengawasi, dan memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam benar-benar menghasilkan nilai tambah bagi bangsa. Dengan demikian, Blok Masela bukan hanya proyek migas, melainkan momentum untuk memperkuat kedaulatan migas, memperkokoh ketahanan energi nasional, serta mendorong hilirisasi sebagai jalan menuju kemakmuran rakyat.

Baca Juga  Turbulensi Menuju Kebangkitan atau Kehancuran Bangsa?

Blok Masela, dengan seluruh dinamika yang menyertainya, mengajarkan kepada kita bahwa pembangunan nasional bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan keputusan yang tepat, berpijak pada konstitusi, dan berorientasi pada kepentingan bangsa. Barangkali, di situlah makna terdalam dari Spirit Pasal 33 UUD 1945 dalam tata kelola migas Indonesia.

Baca Juga  OPINI KRITIS :“Sindiran Berkelas Prabowo: Gubernur Bukan Ajang Piala Citra”

Jakarta, 1707’26

Gunawan Adji, Ir., Ph.D.
Wk. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia 2024-2027.
Akademisi & Konsultan Tata Kelola, Manajemen Risiko & Kepatuhan (GRC).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *