oleh

LANGIT-LANGIT MUHARRAM – Hijrah: Jalan Sunyi Menuju Kemanusian


Menatap cermin, dan bertanya: apa yang harus saya tinggalkan dari diri saya yang lama?

Apakah ego yang angkuh? Apakah kebencian yang menahun? Ataukah kesibukan mencari pengakuan yang membuat jiwa kita kering?

​Hijrah adalah tentang melepaskan. Melepaskan beban yang tidak perlu agar langkah kita menjadi ringan saat menapak masa depan.

Baca Juga  Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh Dari Sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA(Bagian Ketiga)

Ia bukan tentang meninggalkan rumah fisik, melainkan tentang membangun rumah di dalam hati—sebuah ruang di mana setiap orang, terlepas dari apa pun keyakinan dan latar belakangnya, merasa diterima sebagai manusia.

​Dan di sinilah kita kembali pada hakikatnya: Hijrah adalah sebuah jalan sunyi menuju pembebasan. Ia tidak membutuhkan keriuhan.

Ia hanya membutuhkan kejujuran, keberanian untuk mengakui kekurangan, dan kemauan untuk melangkah kembali, dengan kepala yang lebih tunduk namun hati yang jauh lebih lapang.

Baca Juga  JEJAK HASRAT DI ZAMAN MODERN: KETIKA KONSUMERISME MENJAHIT IDENTITAS YANG DIPERSONALISASI

​Sebab, pada akhirnya, tahun baru bukan tentang pergantian angka di kalender. Ia adalah tentang kesanggupan kita untuk menjadi lebih manusiawi, hari demi hari.

Demikian, sedikit catatan yang menjadi “oase” di langit-Langit Muharram ini.(***)

 

​Pejaten, 16 Juni 2026
​Pukuk : 04.20

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *