Bukankah ini ironis? Kita merayakan tahun baru dengan semangat beragama, namun kita kehilangan esensi dari agama itu sendiri: kasih sayang yang tak berbatas.
Hijrah mental, dalam bahasa yang paling sederhana, adalah keberanian untuk menanggalkan jubah kemarahan. Ia adalah kemauan untuk pindah dari “Mekkah” prasangka menuju “Madinah” yang terbuka.
Di Madinah, Nabi tidak membangun pagar. Beliau membangun sebuah “polity”—sebuah peradaban di mana keberagaman bukanlah sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan dirawat sebagai warna-warni kehidupan.
Indonesia hari ini membutuhkan “hijrah mental” semacam itu. Kita butuh berhijrah dari cara berpikir yang hitam-putih.
Kita perlu belajar bahwa kebenaran bukan milik satu kelompok yang paling lantang berteriak di media sosial.
Kebenaran adalah sebuah pencarian yang melelahkan, yang menuntut kesabaran, kejujuran, dan terutama, kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita pun bisa salah.
Sebagai seorang pengajar, saya sering merenung di depan kelas: apakah kita telah mengajarkan mahasiswa kita untuk berhijrah?
Atau kita hanya memberi mereka beban hafalan yang membuat mereka takut untuk berpikir kritis?
Pendidikan yang benar mestinya adalah proses hijrah yang terus-menerus—berpindah dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya akal budi.
Muharram memanggil kita untuk menepi. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu terburu-buru, mungkin saatnya kita berhenti.














Komentar