1. Muslim Arbi: “Ini Jurus Putar Balik Fakta, Mirip ‘Pulang Kampung’”
Muslim Arbi menilai Sarbin Sehe sengaja putar definisi untuk hindari tanggung jawab moral.
“Itu Wagub diduga kuat mengelak dari kekecewaan umat Muslim Malut yang merasa kecewa dan terlecehkan oleh kebijakan Pemprov menggelar MTQ di Basement, lalu ia putar lagi pengertian: bukan basement tapi lantai 1,” tukas Direktur Gerakan Perubahan Indonesia.
Ia mencontohkan dengan polemik era Covid: saat ada “mudik gratis” yang dilarang, namanya diubah jadi “pulang kampung”.
“Ini Wagub Malut mirip Presiden Jokowi. Menghindar dari kesalahan ada yang lolos mudik gratis dengan mengubah jadi pulang kampung. Padahal itu pemudik juga. Kan sama, tapi sengaja diganti namanya,” katanya sambil terkekeh.
Muslim menyindir keras: “Saya hidup di Jakarta & Surabaya. Gedung bertingkat ada lantai bawah tanah itu disebut basement. Kalau kita sebut lantai 1 nanti ditertawakan orang. Katanya kita orang udik, basement dibilang lantai 1.”
1. “Sarbin Gagal Jaga Amanah, Lemah di Depan Gubernur”
Lebih jauh, Muslim Arbi menilai Sarbin Sehe sebenarnya sadar gagal. Isu jemaah haji Malut jadi “penumpang biasa” ke embarkasi Makassar dan kasus MTQ ini disebutnya bukti kegagalan total menjaga kepentingan umat Islam.
“Sarbin Sehe mungkin saja merasa berdosa karena gagal mengemban amanah umat Muslim untuk menjaga di tengah pemimpin yang bukan Muslim. Ia berkelit dengan istilah baru yang membingungkan,” ujarnya.
Menurut Muslim, kalau Sarbin punya posisi kuat dan visi jelas di hadapan Gubernur Sherly Tjoanda yang non-Muslim, kasus kayak gini nggak akan muncul.
“Tapi rupanya dia tak mampu mengimbangi visi dan langkah Gubernur yang lebih kuat kemauan dan visinya. Alih-alih, Sarbin Sehe gagal mengemban amanah Islam dan umat,” tandasnya.
Pesan penutup Muslim: “Tidak usah mengelak dengan pengertian dan pemahaman yang aneh dan nyeleneh. Dia gagal dan tak bisa diharapkan karena lemah di mata Gubernur.”













Komentar