Oleh: M. Guntur Alting
DUNIA hari ini adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak menuju keseragaman.
Di kota-kota besar, dari Jakarta hingga New York, kita melihat manusia-manusia yang memakai pakaian yang sama, menonton film yang sama, dan perlahan-lahan—tanpa kita sadari, berpikir dengan pola yang sama.
Globalisasi seringkali datang seperti “air bah” yang menyapu segala yang kecil, yang unik, dan yang lokal, lalu menggantinya dengan sesuatu yang hambar dan generik.
Namun, di tengah gemuruh penyeragaman itu, sebuah berita dari Tidore Kepulauan hadir seperti “oase.”
Kebijakan sang Walikota untuk mewajibkan penggunaan bahasa Tidore di sekolah dan instansi pemerintah bukan sekadar aturan birokrasi yang dingin.
Bagi saya, ini adalah sebuah “puisi perlawanan.”- Ini adalah upaya sebuah komunitas untuk berkata kepada dunia:
“Kami ada, kami unik, dan kami menolak untuk dilupakan.”
-000-
Secara ilmiah, bahasa bukanlah sekadar alat tukar informasi. Bahasa adalah sebuah “arsitektur kognitif.”
Di dalam setiap kosakata bahasa Tidore, terdapat jejak-jejak sejarah Kesultanan yang agung, filosofi tentang laut yang menghidupi, serta etika tentang bagaimana manusia harus berdiri di hadapan Tuhan dan sesamanya.
Ketika seorang anak Tidore kehilangan bahasanya, ia tidak hanya kehilangan kata-kata. Ia kehilangan “kunci” untuk membuka peti harta karun kearifan leluhurnya.














Komentar