Kebijakan ini adalah cara Walikota untuk memastikan bahwa sejauh mana pun anak-anak Tidore merantau, mereka selalu punya jalan pulang di dalam lidah mereka.
-000-
Saya melihat langkah ini sebagai sebuah diplomasi identitas. Tidore tidak ingin dikenal hanya sebagai titik koordinat di peta Maluku Utara.
Tidore ingin dikenal sebagai sebuah peradaban yang bernapas.
Ada sebuah pesan mendalam di sini: Modernitas tidak harus berarti Westernisasi.
Menjadi maju tidak harus berarti menjadi orang lain. Kita bisa menjadi modern dengan tetap menjadi Tidore yang otentik.
Inilah yang disebut sebagai “global-local paradox”—semakin kita menjadi lokal yang kuat, semakin kita dihargai di tingkat global.
-000-
Tentu, tantangan akan ada. Perubahan perilaku tidak terjadi dalam “semalam.” Akan ada keraguan, mungkin juga sedikit kecanggungan di awal.
Namun, sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani mengambil langkah pertama yang sulit.
Lidah leluhur itu kini sedang diajak pulang. Ia tidak lagi hanya berbisik di sudut-sudut dapur atau di pasar-pasar tradisional, tetapi ia kini mulai bergema di podium-podium sekolah dan meja-meja kekuasaan.
Ini adalah janji kita kepada masa depan: bahwa di tanah ini, ruh “Tidore Jang Foloi” tidak akan pernah habis termakan zaman.
Sebab, selama bahasa itu masih diucapkan, selama dialek itu masih mengalir dalam doa-doa dan diskusi kita, maka selama itulah Tidore akan tetap abadi sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.(***)














Komentar