oleh

Tatanan Dunia yang Kacau: Menakar Laku Spiritual sebagai Penyeimbang Rasio Politik

Epistemologi Ketimuran: Masuk ke Dalam vs Keluar ke Jagat

Di sini Jacob Ereste menukik tajam: spiritualitas Nusantara bersifat inward-looking. Jika Barat mencari transendensi di gunung, laut, kosmos—the sublime is outside—maka tradisi Jawa, sufi, dan kebatinan Nusantara percaya Gusti ana ing manah: Tuhan bersemayam di kedalaman diri. Manunggaling Kawulo lan Gusti adalah puncak kesadaran, bukan eskapisme.

Baca Juga  Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

Mircea Eliade menyebut ini “the sacred within”. Maka samedi, yoga, zikir, bukan lari dari realitas, tapi menyelam untuk kembali ke realitas dengan kepala dingin. Dunia politik yang carut-marut tak diselesaikan dengan amarah, tapi dengan kesadaran yang tenang.

Spiritualitas Politik: Antitesis bagi Korupsi dan Khianat

Max Weber sudah wanti-wanti soal ethic of responsibility vs ethic of conviction. Politik tanpa spiritualitas mudah tergelincir jadi Machiavellian: tujuan menghalalkan cara. Ketika hati dibungkam, lahirlah pejabat yang “ngentit duit rakyat, ingkar janji, suka berbohong”.

Baca Juga  Kerukunan Bukan Kebetulan: Catatan dari Halmahera Barat

Laku spiritual dalam politik adalah mekanisme check and balances internal. Ia menghadirkan prophetic ethics Ali Syari’ati: pemimpin yang takut kepada Tuhan sebelum takut kepada rakyat. Maka spiritualitas bukan anti-dunia, tapi modal menghadapi dunia agar tak stres, kalap, dan korup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *