oleh

Tatanan Dunia yang Kacau: Menakar Laku Spiritual sebagai Penyeimbang Rasio Politik

Epistemologi Ketimuran: Masuk ke Dalam vs Keluar ke Jagat

Di sini Jacob Ereste menukik tajam: spiritualitas Nusantara bersifat inward-looking. Jika Barat mencari transendensi di gunung, laut, kosmos—the sublime is outside—maka tradisi Jawa, sufi, dan kebatinan Nusantara percaya Gusti ana ing manah: Tuhan bersemayam di kedalaman diri. Manunggaling Kawulo lan Gusti adalah puncak kesadaran, bukan eskapisme.

Baca Juga  Potret Politik Anggaran Gubernur Sherly di Wilayah Agraris-Maritim

Mircea Eliade menyebut ini “the sacred within”. Maka samedi, yoga, zikir, bukan lari dari realitas, tapi menyelam untuk kembali ke realitas dengan kepala dingin. Dunia politik yang carut-marut tak diselesaikan dengan amarah, tapi dengan kesadaran yang tenang.

Spiritualitas Politik: Antitesis bagi Korupsi dan Khianat

Max Weber sudah wanti-wanti soal ethic of responsibility vs ethic of conviction. Politik tanpa spiritualitas mudah tergelincir jadi Machiavellian: tujuan menghalalkan cara. Ketika hati dibungkam, lahirlah pejabat yang “ngentit duit rakyat, ingkar janji, suka berbohong”.

Baca Juga  Gak Ada Pintu Untuk Stop Perang Antara Iran vs US-Israel

Laku spiritual dalam politik adalah mekanisme check and balances internal. Ia menghadirkan prophetic ethics Ali Syari’ati: pemimpin yang takut kepada Tuhan sebelum takut kepada rakyat. Maka spiritualitas bukan anti-dunia, tapi modal menghadapi dunia agar tak stres, kalap, dan korup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *