“Ini sejarah,” tegas Amar Ome, dosen Unkhair sekaligus sutradara. “Umumnya cerita kepahlawanan dikemas dalam film atau drama. Kami kemas dalam monolog. Masing-masing aktor berdiri sendiri, menghidupkan tokoh besar Moloku Kie Raha lewat tutur, emosi, dan jiwa.”
Demi pementasan terbaik, tim sudah menggelar pelatihan 4 kali. Naskah digarap empat penulis: Saiful Bahri Ruray, Asgar Saleh, Herman Osman, dan almarhum Irfan Ahmad.
Tantangan Jiwa: Jadi Babullah, Nuku, dan Salahuddin
Bagi para aktor, peran ini lebih dari sekadar panggung. Azis Hakim, pakar ekonomi asal Kayoa, mengaku terpanggil secara nurani. “Memerankan Sultan Babullah ada keterlibatan emosional. Kapita Kayoa dengan tarian perang soya-soya ikut dalam perjuangan beliau. Sebagai putra Kayoa, saya bangga. Tapi juga berat, karena Babullah tokoh besar,” ucapnya.
Asrul NL yang memerankan Sultan Nuku menyebut tantangan terberat adalah menjiwai Prince of Liberty itu. “Saya lama di panggung, tapi menjiwai karakter Nuku butuh napas panjang,” katanya.













Komentar