oleh

Pengamat Pertanyakan Dana Komunikasi Rp.11 Miliar Gubernur Sherly: Demokrasi atau “Gubernur Sejuta Buzzer”

-HEADLINE-597 Dilihat

Ternate –Anggaran komunikasi Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda yang mencapai Rp.11 miliar dalam APBD 2026 memantik gelombang kritik dan kekhawatiran publik. Di tengah tekanan efisiensi anggaran dan sorotan terhadap praktik rangkap jabatan sang gubernur di sektor tambang, alokasi dana jumbo ini justru menimbulkan pertanyaan besar: untuk komunikasi publik atau untuk membiayai pasukan buzzer?

Baca Juga  IPM Maluku Utara Naik Tipis, Ekonom UMMU Kritik Arah Belanja Rp3,5 Triliun APBD 2025

Isu “Gubernur Sejuta Buzzer” yang belakangan ramai di media sosial dan ruang-ruang diskusi publik, kini seolah menemukan konteksnya. Banyak pihak menduga dana komunikasi tersebut berpotensi digunakan untuk memperkuat barisan pendengung digital yang bertugas membela kebijakan dan citra Sherly di dunia maya bukan untuk memperkuat transparansi dan partisipasi publik sebagaimana semangat demokrasi.

Baca Juga  Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari, Pemkot Ternate Kebut Penanganan Dampak Gempa M 7,6

“Alih-alih memperkuat demokrasi, dana Rp11 miliar itu justru dikhawatirkan memecah belah rakyat,”*ujar A. Malik Ibrahim, aktivis senior dan mantan Ketua KNPI Maluku Utara pertama ini. Ia menilai, anggaran sebesar itu harus diawasi ketat oleh DPRD agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik sempit.

Menurut Malik, DPRD memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan bahwa setiap rupiah dari APBD digunakan untuk memperkuat pemerintahan yang inklusif, bukan untuk membungkam kritik atau membangun dinasti digital yang anti-kritik.

Baca Juga  MUSDA PARTAI GOLKAR MALUT KE VI : Signal Aklamasi Alien Menguat

Dugaan Politisasi Anggaran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *