oleh

JEJAK KEAGUNGAN DI LAYAR XX1 —Monumen Jiwa Pahlawan dari Tanah Rempah

Kata-kata yang terucap dari Sultan Baabullah melalui Aziz Hasyim, dari Sultan Nuku melalui Asrul NL, dari Haji Salahuddin bin Talabuddin melalui Syahrir Ibnu, dan dari Sultan Zainal Abidin melalui Amal Hasanudin mengalir bagai syair, mengalun lembut namun memukul dada dengan keras. Setiap penonton, tua maupun muda, seolah tersambung dalam satu benang merah kebanggaan.

Baca Juga  Kerukunan Bukan Kebetulan: Catatan dari Halmahera Barat

Tepuk tangan yang bergema di akhir pertunjukan bukan seolah mimik sopan santun, akan tetapi sebagai ledakan rasa hormat yang tulus. Senyum terpancar di wajah setiap orang, bukti bahwa sejarah bisa disampaikan dengan indah, dan bahwa warisan leluhur masih mampu mengguncang hati generasi kini.

Pertunjukan ini sukses luar biasa. Ia menjadi bukti bahwa seni dan sejarah, ketika dipersembahkan dengan cinta dan ketulusan, mampu menyatukan hati dalam satu harmoni. Apresiasi positif yang mengalir deras adalah bukti nyata bahwa semangat para pahlawan itu masih hidup, berdenyut di nadi masyarakat Maluku Utara.

Baca Juga  Blusukan Kepala Daerah, Antara Kerja Nyata dan Ilusi Pencitraan

Sebagai Penyelenggara, kami sampaikan Terima Kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mensukseskan acara ini; para Penulis, Aktor, Sutradara, TIM & Kru, serta pihak sponsor yang telah memberikan senyuman keabadiannya dalam karya ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *