– Membaca Gendang Sahur Melalui Lensa Durkheim dan Herbert Mead
Oleh : M.Guntur Alting
Di Ternate, di Tidore, malam tak pernah benar-benar mati.
Ketika jarum jam merayap ke angka tiga, bukan alarm ponsel yang memecah mimpi.
Melainkan getaran membran kulit dan kaleng bekas yang dipukul serempak oleh tangan-tangan muda.
“Bangun… Sahur…!”
Suara itu membelah kabut yang turun dari puncak dua gunung. Mengalir masuk ke celah jendela, mengetuk pintu hati yang sedang terlelap.
Di sini, sunyi bukan untuk dipelihara.Tapi untuk dirayakan sebagai ruang pertemuan jiwa.
Gendang itu bukan sekadar pengingat lapar dan dahaga. Ia adalah dentum “Solidaritas Mekanik” yang nyata.
Sebuah ritual yang meluruhkan ego “aku” menjadi simfoni besar bernama “kita”.
–000–
Di Maluku Utara, dini hari bukan hanya milik sunyi. Di tengah tidur yang lelap, udara tiba-tiba bergetar oleh pukulan gendang, dentum perkusi dari barang bekas, hingga lantunan syair yang membelah keheningan.










Komentar