– Catatan Saripati Nuzulul Qur’an di Masjid Attaubah Ciputat
Oleh : M.Guntur Alting
Di lantai Masjid di Ciputat yang syahdu, menahan napas, menyimpan riuh kota di balik pintu yang terbuka.
Di sini, Nuzulul Quran tidak sedang kita tengok sebagai artefak sejarah yang terkunci di sunyi Gua Hira. Melainkan sebagai sebuah peristiwa yang terus berdenyut.
Kita berkumpul, membawa gelisah zaman yang retak, menunggu ayat-ayat Tuhan turun kembali–bukan sebagai gema di langit, melainkan sebagai detak jantung
yang membumi di tengah hiruk-pikuk kehidupan kita.
Dengan lensa sosiologi, kita mencoba membedah bagaimana wahyu bekerja melampaui batas-batas individual.
Kita tidak lagi melihat masjid sebagai ruang isolasi, melainkan sebagai pusat gravitasi bagi solidaritas organik di tengah gempuran individualisme kota.
Di sinilah kita mendapati bahwa Quran bukanlah sekadar teks suci yang statis, melainkan sebuah kekuatan penggerak—sebuah “social engineering” yang radikal.
Yang hadir untuk memandu neraca keadilan di tengah kompleksitas struktur sosial yang kerap timpang dan menindas.
–000–









Komentar