Malam itu, Masjid Attaubah di Ciputat tidak sekadar menjadi tempat beribadah.
Di tengah hiruk-pikuk kawasan pendidikan dan urban yang sibuk, jamaah berkumpul dalam keheningan yang khidmat untuk memperingati Nuzulul Quran.
Berdiri di depan mimbar, saya merasakan tanggung jawab besar: bagaimana membumikan peristiwa turunnya wahyu yang berusia 14 abad silam agar tetap relevan dan menyentuh denyut nadi masyarakat modern?
Dalam ceramah tersebut, saya mencoba keluar dari pakem tafsir normatif-tekstual yang biasa.
Saya mengajak jamaah menatap Nuzulul Quran melalui lensa sosiologi, sebuah disiplin ilmu yang membedah bagaimana agama berinteraksi dengan struktur masyarakat.
Jika kita meminjam kacamata Emile Durkheim, peristiwa Nuzulul Quran bukan sekadar fenomena historis yang terisolasi di Gua Hira.
Ia adalah momen “collective effervescence”—gejolak kolektif yang menciptakan kesadaran bersama.
–000–
Di masa awal Islam, wahyu berfungsi sebagai kekuatan penyatu yang merajut masyarakat Arab yang terfragmentasi oleh kesukuan menjadi satu entitas moral baru yang kokoh.
Hari ini, di tengah individualisme kota besar seperti Ciputat, kehadiran jamaah di masjid adalah manifestasi modern dari solidaritas organik tersebut; sebuah upaya untuk kembali menemukan “titik temu” nilai di tengah perbedaan latar belakang.







Komentar