– Mengantar Pulang Profesor Yuwono Sudarsono
Oleh : M.Guntur Alting
KETIKA mendengar berita wafatnya Yuwono Sudarsono malam ini, ingatan saya tentangnya di beberapa momen di masa silam, hadir.
Ingatan pertama yang datang, adalah suasana sepi sore hari di Mall Pondok Indah Jakarta.
Saya baru saja keluar dari toko buku Gramedia, mata saya tiba-tiba tertuju satu sosok yang duduk di kursi roda.
Saya mengenal sosok itu, karena wajahnya sangat familiar, sering muncul di layar TV.
” Nak, lihat si bapak yang duduk di kurs roda itu! kamu kenal tidak? tidak kenal Aba” Tanya saya pada Putri saya, dan itulah jawabannya.
Saya maklumi, jarang sekali anak-anak zaman sekarang bisa hafal nama menteri, jangankan yang mantan menteri, yang masih jabat saja mereka tidak hafal, termasuk juga kita.
Saya pernah tulis di esai Emil Salim, di era Suharto, sejak bangku SD kita udah hafal satu persatu nama menteri.
” Dia itu Prof.Yuwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan dan dosen hukum internasional UI” kata saya dan dia hanya mengangguk.
Tentu saya tidak meminta untuk foto denganya, takut menganggu privasinya dan membuat dia tidak nyaman di atas kursi roda.
Saya membayangkan jika saya minta izin untuk foto mungkin ia akan mengizinkan, tapi pasti pria berotot yang mengiringi dia di kursi roda pasti melarang ” siapa pula orang ini, ujuk-ujuk minta foto”
Pikir saya dalam hati. (Maklum masih norak, mental anak kampung) he he..
–000–
Momen kedua, adalah ketika saya membaca kiprahnya di suatu kesempatan di perpustakaan UI. Saat ia msih menjadi menteri Pertahanan di era SBY.
Saya lupa detail judul bukunya. Namun saya masih ingat, di buku itu mengupas tentang kiprahnya.
Saya ingin meriview berdasarkan ingatan saya dari buku yang say baca sebagai berikut :
Di panggung internasional, Prof. Yuwono adalah seorang arsitek “diplomasi sunyi”. Beliau tidak percaya pada diplomasi meja makan yang penuh kepura-puraan atau retorika podium yang membakar emosi tanpa isi.











Komentar