Baginya, kedaulatan sebuah bangsa tidak ditegakkan dengan isolasi atau konfrontasi yang membabi buta, melainkan dengan kecerdasan untuk menempatkan Indonesia dalam konstelasi global secara bermartabat.
Sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama, dalam bacaan saya, ia menghadapi tugas yang hampir mustahil: mereformasi institusi militer yang telah puluhan tahun mengakar dalam politik, tanpa menciptakan guncangan yang merobohkan negara.
Di sinilah letak jeniusnya. Ia masuk ke markas-markas besar bukan sebagai komandan yang memerintah, tapi sebagai seorang guru yang mengajak berdialog.
Ia berbicara tentang profesionalisme militer dengan bahasa intelektual yang begitu jernih, sehingga para jenderal sekalipun merasa sedang diajak berpikir, bukan sedang dihakimi.
Buku itu juga menyebut bahwa beliau adalah penengah yang mampu menjinakkan ketegangan antara tuntutan reformasi sipil dan tradisi korps militer dengan keanggunan seorang diplomat ulung.
Namun, di balik semua pencapaian itu, hal yang paling menyentuh dari sosok Prof. Yuwono menurut saya adalah sifat “asketisnya.”
Di era di mana kekuasaan sering kali dirayakan dengan kemewahan yang vulgar, beliau memilih jalan yang sunyi.
Baginya, menduduki jabatan publik adalah sebuah bentuk “puasa”—sebuah laku prihatin untuk menahan diri dari segala bentuk godaan materi demi menjaga kejernihan nurani.
Beliau adalah pejabat yang tidak merasa butuh untuk “tampak” penting. Kita mungkin masih ingat bagaimana beliau lebih memilih menggunakan mobil dinas yang sederhana atau bahkan terlihat di bandara tanpa pengawalan yang berlebihan, membaur dengan rakyat yang ia layani.
Asketisme ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat: bahwa integritas seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak orang yang menyembahnya, tetapi dari seberapa tangguh ia menjaga jarak dengan syahwat kekuasaan.
–000–
Hari ini, ia berpulang namun kepergiannya tidak ditandai dengan dentum meriam atau keriuhan yang dibuat-buat.
Prof. Dr. Yuwono Sudarsono berpulang sebagaimana ia hidup: dalam keanggunan yang sunyi, dalam kesederhanaan yang justru memancarkan wibawa paling tinggi.
Ia adalah tipe manusia yang tidak perlu berteriak untuk didengarkan, karena kejernihan berpikir dan ketulusan budinya telah menjadi pengeras suara yang menembus sekat-sekat perbedaan.
Bagi banyak orang, Prof. Yuwono adalah “Menteri Segala Zaman”. Namun, julukan itu seringkali gagal menangkap esensi terdalam dari sosoknya.
Ia bukan sekadar teknokrat yang lihai meniti buih di berbagai rezim; ia adalah seorang jangkar.
Di masa-masa sulit transisi demokrasi, saat hubungan sipil dan militer berada di titik nadir, ia hadir bukan sebagai pendobrak yang kasar, melainkan sebagai penenun yang sabar.












Komentar