–000–
Dalam panggung sejarah politik Indonesia yang sering kali riuh dengan ambisi dan letupan konflik, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno muncul sebagai anomali yang menyejukkan.
Kepergiannya bukan sekadar hilangnya seorang mantan Wakil Presiden atau eks Panglima ABRI dari daftar protokol negara, melainkan berpulangnya sebuah prototipe ideal “prajurit-negarawan” yang kian langka di era kontemporer.
Menilik garis hidupnya yang bermula di Surabaya pada 1935, kita akan menemukan narasi tentang loyalitas yang linear. Try Sutrisno adalah produk dari zaman ketika kata “pengabdian” belum terdistorsi oleh kalkulasi citra di media sosial.
Karier militernya yang cemerlang—mulai dari pendidikan di Atekad hingga menduduki puncak kepemimpinan militer—tidak diraih dengan sikut-menyikut, melainkan melalui profesionalisme yang dibalut kesantunan budi.
Salah satu atribut paling melekat pada sosok beliau adalah kesederhanaan yang autentik. Di tengah kemewahan akses kekuasaan Orde Baru, Try Sutrisno memilih untuk tetap menjadi manusia yang membumi.
Sebagai ajudan yang setia bagi Presiden Soeharto, beliau tetap mampu menjaga jarak etis sehingga pribadinya dihormati, bahkan oleh mereka yang berseberangan secara politik.
Beliau membuktikan bahwa kekuasaan tidak selamanya harus bersifat korosif terhadap karakter seseorang.
Sebagai Wakil Presiden RI ke-6 (1993–1998), beliau memainkan peran sebagai penyeimbang yang tenang. Di saat arus tuntutan reformasi mulai menguat di penghujung masa jabatannya, Try tetap tegak pada garis konstitusi.
Bagi sebagian orang, loyalitasnya mungkin dianggap konservatif; namun bagi mereka yang memahami jiwa korsa, itu adalah manifestasi sumpah prajurit yang dipegangnya teguh.













Komentar