oleh

Sosio-Puasa | Hari -10/11 : ANTARA PERUT DAN STATUS

Marx mungkin akan menyoroti bagaimana kudapan tradisional seperti kue Lapis atau Nasi Jaha yang dulu dibuat penuh kasih di dapur rumah (nilai guna), kini diproduksi massal untuk mengejar laba (nilai tukar).

Di sini, kita terjebak dalam “fetisisme komoditas”—kita tidak lagi melihat takjil sebagai hasil karya tangan pengrajin kuliner, melainkan sekadar barang yang wajib dibeli agar ritual berbuka terasa “lengkap”.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

Lebih jauh, perbedaan mencolok antara menu hotel berbintang dengan takjil pinggir jalan secara kasar mempertegas garis demarkasi kelas sosial yang ingin Marx runtuhkan.

Meja makan kini menjadi batas pemisah antara borjuasi urban dan proletar yang sekadar mencari pengganjal perut.

–000–

Status di Swering: Rasionalitas Weberian

Namun, jika kita bergeser ke kawasan Swering atau kafe-kafe modern di belakang Jatiland Mall, kita menemukan panggung Max Weber.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari : 5/6 : DARI ALGORITMA LANGIT KE ALGORITMA DIGITAL

Di sini, konsumsi bukan lagi soal kalori, melainkan soal Gaya Hidup (Lifestyle) dan Kelompok Status (Stand).

Memilih berbuka dengan kopi kekinian di tengah aroma rempah lokal adalah sebuah “tindakan rasional bertujuan”.

Bagi kaum urban Ternate, ini adalah cara mengukuhkan status sosial sebagai pribadi yang modern dan terkoneksi global.

Namun, Weber juga akan melihat sisi positif pada “Rasionalitas Nilai”

Baca Juga  RUBRIK SOSIO — PUASA : MEMBACA DENYUT MASYARAKAT DALAM LENSA SOSIOLOGI-AGAMA

Banyak warga yang tetap rela antre panjang demi Asida atau Kue Waji asli dari pembuat legendaris.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *