Momen yang paling menyentuh publik terjadi pada Rabu pekan lalu, ketika Rizal mengumpulkan seluruh tenaga pengangkut sampah—para pengemudi motor roda tiga yang setiap hari mengangkut sampah dari lorong-lorong sempit permukiman warga. Bersama Wali Kota Tauhid Soleman, Rizal menyapa mereka satu per satu, mendengar langsung keluh kesah yang selama ini jarang tersampaikan.
Para pengangkut sampah ini sering disebut sebagai “pahlawan kebersihan”, namun dalam praktik birokrasi, suara mereka kerap tenggelam. Soal kesejahteraan, jam kerja, risiko kesehatan, hingga fasilitas kerja, jarang menjadi prioritas diskusi kebijakan. Dengan duduk dan mendengar langsung, Rizal menempatkan mereka bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek pembangunan kota.
Max Weber memang menekankan pentingnya rasionalitas dan hierarki birokrasi, tetapi pendekatan birokrasi modern menuntut lebih dari sekadar kepatuhan prosedural. Birokrasi dituntut memiliki sensitivitas sosial. Apa yang dilakukan Rizal menunjukkan upaya menjembatani dua hal ini: ketertiban administrasi dan kepekaan kemanusiaan.
Tentu, pendekatan lapangan bukan tanpa tantangan. Konsistensi, keberlanjutan, dan penerjemahan temuan lapangan ke dalam kebijakan konkret akan menjadi ujian utama. Tanpa itu, program seperti Rabu Menyapa berisiko menjadi rutinitas tanpa dampak struktural. Namun sejauh ini, Rizal Marsaoly memberi sinyal kuat bahwa jabatan Sekda tidak harus identik dengan jarak dan kekakuan.









Komentar