Oleh A. Malik Ibrahim
Cei sama deng butul-butul kong pake kata mendorong”,–suara FB
BETUL kata teori, realisme politik kita harus bergerak di wilayah yang lebih substansial dan masif.
Dalam marketing politik, teori selalu tentang realitas. Suatu gagasan politik akan busuk dengan sendirinya, jika ia tidak lagi mampu menerangkan realitas. Soal dukungan riil, itu biasa. Tergantung mahar (bidomarau), sebab dalam demokrasi langsung faktanya selalu tak berbanding lurus.
Selain ide, gagasan dan jejaring, harus ada kalkulasi dan momentumnya. Tanpa orang harus bisa menerangkan ‘mengapa’. Itulah politik. Bagaimana partai melihat masyarakat sebagai subyek, dari sekedar segmentasi pasar. Bentuk program yang disodorkan adalah deepening democracy – pendalaman demokrasi.
Di sini premis kita adalah; sebesar apa pun partai politik, tidak akan memadai, karena yang diperlukan adalah kebijakan publik yang unggul. Apakah partai telah merumuskan isu-isu strategis jadi kebijakan publik yang unggul? Sebab kebijakan publik adalah bentuk riil dari politik.









Komentar