Rekomendasi NasDem
Salah satu rekomendasi DPW Partai NasDem Maluku Utara dalam Rakerwil kemarin, (Minggu, 11/01/26) adalah mendorong perubahan nama Provinsi Maluku Utara jadi Maluku Kie Raha (mirip trans kieraha).
Sejatinya Rakerwil partai sebesar NasDem, harusnya merekomendasikan isu atau program prioritas daerah, seperti penanganan kemiskinan, ketimpangan wilayah, pengangguran dan perluasan pertumbuhan ekonomi inklusif, politik lokal dan otonomi serta konsolidasi strategi pembangunan infrastuktur yang bersinergi dengan kabupaten kota. Bukan justru merekomendasikan sesuatu yang paradoks dengan hak sejarah daerah (historical right) Maluku Utara.
Maluku Utara adalah blessing in disguise; berkah yang tersembunyi. Ia harus dibaca dan dihayati sebagai sejarah politik masa lalu. Dan politik masa lalu adalah sejarah di masa kini. Politik dan sejarah hampir tak bisa dipisahkan, walau tak bisa dikatakan identik. Interpretasi dan penilaian seharusnya tidak terjebak pada paradoks, anomali sekaligus kelam.
Itulah sebabnya, sejarah dan politik diibaratkan sebagai two sides of the same coin (dua sisi mata uang yang sama). Sejarah adalah guru kehidupan – historia vitae magistra, begitu kata Cicero. Lebih baik belajar memahami narasi dan konteksnya, dari pada terperangkap oleh labirin irelevansi sejarah. Apalagi oleh perangkap yang kita ciptakan sediri.
Sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan sesuatu yang sifatnya informatoris dangkal, tempelan asesori sejenis nomenklatur. Seolah-olah perubahan nama provinsi Malut; semua problem krusial daerah bisa beres. “Bila ini benar-benar didorong tentu akan menjawab masalah status ibukota Malut”, (Malut Post, 19
Januari 2026). Bukankah, dengan cap partai restorasi dinyatakan, bahwa poltik gagasan tidak hanya berangkat dari preferensi politik, tetapi dimulai dari pemikiran yang sadar, matang dan terkonsep. Inilah keniscayaan sejarah, kader yang malas berpikir akan kalah dan tertinggal.
Dan jalan sejarah Maluku Utara adalah satu dan linier. Ia adalah pusat percaturan global yang menarik imprealisme Eropa datang di Nusantara. “Henk Neijmeyer, tulis Syaiful Bahri Ruray, sejarawan Universitas Leiden yang ahli tentang Maluku, mengatakan tidak satu pun peristiwa lokal di Maluku yang tidak terkait dengan pentas dunia. Siapa yang menyangka bahwa Cristopher Columbus menemukan benua Amerika karena nyasar dalam perjalanan spekulatifnya mencari kepulauan rempah-rempah di Maluku Utara”, (Ruray, 2018: xii).
Di sinilah pentingnya kita sebagai politisi untuk belajar dan membaca sejarah Maluku Utara. Tanpa imajinasi historis, kita akan gamang merumuskan strategi masa depan daerah, selain berkutat pada hal-hal yang remeh-temeh.
Maluku Utara dalam Sejarah.







Komentar