Ada semacam kepuasan tersendiri. Bagi saya bermusik dengan mengolah sendiri lewat alat musik (piano dan gitar) jauh lebih sensasional dan memberi “kesenangan plus”, melampaui kesenangan bermusik secara instan (karaoke). Terasa ada unsur “healing” ketika penat dan atau mendinginkan otak setelah berjibaku dengan penulisan.
Keempat, Mewujudkan “perpustakaan mini” di rumah Cinere dengan memanfaatkan ruangan khusus.
Hal yang membahagiakan adalah ketika mengisi rak-rak buku dengan menambah referensi dari hasil memburu buku-buku murah di Pasar Senen dan Blok M Jakarta.
Saya jadi ingat dengan Yusran Darmawan, saat ia menyebut bahwa ada (3) tiga keuntungan yang diharapkan dari memiliki buku di perpustakaan. Pertama, intelektual benefid (keuntungan intektual), dengan membaca bisa membawa pencerahan atau minimal cara-cara baru memahami persoalan.
Kedua, emotional benefid (keuntungan emosional), yang mencakup aspek-aspek emosi yang mengayakan jiwa dan kepekaan perasaan terhadap orang lain.
Ketiga spiritual benefid (keuntungan spiritual) yakni harapan untuk melihat zaman dan peradaban yang lebih baik, keinginan untuk menyerap hikmah, lalu membaca masa depan.
Ada sebuah sebuah kepuasan tersendiri saat memburu buku-buku yang masuk di daftar list dengan harga yang sangat murah, di bandingakan dengan Gramedia yang harganya menyundul langit.
Minggu kedua desember kemarin, usai menyampaikan khutbah di Jalan Kerinci Kebaoran Baru, Saya menyempatkan diri singgah di Blok M.
Dan sebuah “miracle”, saya mendapatkan buku yang telah lama saya cari seperti, karya Albert Camus : Orang Asing, Karya Franz Kafka : Proses, karya Osamu Dazai : Matahari Tenggelam. Saya juga menemukan sebuah novel futuristik “Brave New World” karya novelis dan filsuf Inggris Aldous Huxley.
Tentu tak semua yang saya rencanakan terwujud, Ada beberapa obsesi karya buku yang tertunda menunggu antrian diterbitkan seperti “Safarna” yang memuat “Catatan Memoar” perjalanan saya ke tiga negara, turkey, Brisbane dan Korea.
—000–
Akhirnya refleksi atas waktu merupakan bagian penting dari kesehatan mental. Tanpa refleksi, manusia mudah terjebak dalam rutinitas mekanis: sibuk tetapi hampa, aktif tetapi kehilangan arah.
Refleksi akhir tahun berfungsi sebagai “psychological checkpoint”. Yakni titik jeda untuk menilai kembali tujuan hidup, kebiasaan sehari-hari. Serta kualitas hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri.
Waktu pun berubah dari sekadar kronologi menjadi medium pembentukan makna. Akhirnya “Selamat Menyongsong Fajar 2026”. Wallahu’alam.
—
Kota Wisata Cibubur, 31 Desember 2025.
Pukul : 06.00














Komentar