oleh

A.Malik Ibrahim, Kritik Suara Kampus Yang Hilang di Riuh Pembahasan RAPBD Malut

-HEADLINE-463 Dilihat

Malik menilai kondisi tersebut sebagai ironi sekaligus kegagalan dunia akademik dalam menjalankan peran sosialnya.

“Para profesor dan doktor jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bisu terhadap penderitaan rakyat,” pungkas dia.

Kritik publik ini menegaskan harapan agar kampus tidak hanya menjadi menara gading ilmu, tetapi juga garda moral dalam memastikan APBD Maluku Utara benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan menjadi instrumen politik kekuasaan.***

Baca Juga  IPM Maluku Utara Naik Tipis, Ekonom UMMU Kritik Arah Belanja Rp3,5 Triliun APBD 2025

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *