oleh

A.Malik Ibrahim, Kritik Suara Kampus Yang Hilang di Riuh Pembahasan RAPBD Malut

-HEADLINE-477 Dilihat

Malik menilai kondisi tersebut sebagai ironi sekaligus kegagalan dunia akademik dalam menjalankan peran sosialnya.

“Para profesor dan doktor jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bisu terhadap penderitaan rakyat,” pungkas dia.

Kritik publik ini menegaskan harapan agar kampus tidak hanya menjadi menara gading ilmu, tetapi juga garda moral dalam memastikan APBD Maluku Utara benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan menjadi instrumen politik kekuasaan.***

Baca Juga  Pejabat Daerah dan Pusat Ikut Nonton, Pertunjukan Monolog Pahlawan Nasional Jejak Perjuangan Dari Kie Raha Siap Guncang XXI Jati Land Ternate

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *