oleh

A.Malik Ibrahim, Kritik Suara Kampus Yang Hilang di Riuh Pembahasan RAPBD Malut

-HEADLINE-673 Dilihat

Malik menilai kondisi tersebut sebagai ironi sekaligus kegagalan dunia akademik dalam menjalankan peran sosialnya.

“Para profesor dan doktor jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bisu terhadap penderitaan rakyat,” pungkas dia.

Kritik publik ini menegaskan harapan agar kampus tidak hanya menjadi menara gading ilmu, tetapi juga garda moral dalam memastikan APBD Maluku Utara benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan menjadi instrumen politik kekuasaan.***

Baca Juga  Ketua Buruh Malut Kecewa: “Sherly di May Day IWIP Cuma Seremonial” : Aktivis Kritik Shery Lebih Pro Kapitalisme

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *