oleh

SIDEGO Rilis Laporan Tahun 2025 : Pasar Kerja Maluku Utara di Persimpangan

-HEADLINE-683 Dilihat

Pertumbuhan Tinggi, Pengangguran Meningkat, dan Trans Kieraha Jadi Solusi Mendesak

MALUKU UTARA – Di tengah lonjakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang digerakkan oleh industri pengolahan nikel, pasar kerja justru menunjukkan gejala tekanan serius. Laporan terbaru SIDEGO Kie Raha mengungkapkan paradoks ekonomi yang mengkhawatirkan: pertumbuhan tinggi, tetapi pengangguran meningkat, kualitas pekerjaan menurun, dan ketimpangan wilayah makin tajam. Di tengah situasi ini, kebijakan Trans Kieraha—transmigrasi lokal dari pulau-pulau kecil ke Pulau Halmahera—muncul sebagai solusi strategis yang tak bisa ditunda.

Baca Juga  SIGAP! Sejam Pasca Gempa, Sekda Rizal Marsaoly Gerak Cepat Bentuk Posko Gempa 7,6 SR di Ternate

Pertumbuhan Ekonomi Tak Menjamin Lapangan Kerja

Dalam lima tahun terakhir, Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan timur Indonesia, didorong oleh ekspansi smelter nikel di Halmahera Tengah dan Selatan. Namun, laporan SIDEGO menunjukkan bahwa pertumbuhan ini tidak diiringi oleh penciptaan lapangan kerja yang memadai. Fenomena ini dikenal sebagai *growth without jobs.

Baca Juga  Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari, Pemkot Ternate Kebut Penanganan Dampak Gempa M 7,6

Data terbaru menunjukkan bahwa dari 705,58 ribu angkatan kerja, sebanyak 32,12 ribu orang masih menganggur. Lebih mencemaskan lagi, 40% dari mereka yang bekerja adalah pekerja paruh waktu atau setengah penganggur, mereka bekerja, tetapi dengan jam kerja rendah dan pendapatan tidak stabil. Ini menciptakan kemiskinan semu di tengah pertumbuhan ekonomi yang impresif.

Baca Juga  SIGAP! Sekda Rizal Marsaoly Gerak Cepat Bentuk Posko Gempa 7,6 SR di Ternate

Industri Tumbuh, Tapi Tidak Inklusif

Sektor industri pengolahan kini menyerap 24,9% tenaga kerja, tumbuh 4,56% dalam setahun terakhir. Namun, pekerjaan di sektor ini cenderung padat modal dan membutuhkan keterampilan tinggi, sehingga tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal berpendidikan menengah ke bawah. Ironisnya, banyak posisi justru diisi oleh migran dari provinsi lain.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *