Kisah Siti Marnia dan Bambang Pujianto adalah potret nyata dari transformasi tersebut. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi mitra dalam pembangunan. Mereka bertani bukan karena belas kasih perusahaan, melainkan karena lahirnya kemitraan yang adil dan saling menguntungkan. Dari tanah Obi yang dahulu gersang dan ragu, kini tumbuh kehidupan yang produktif.
Lebih jauh, inisiatif seperti Kafe Prosa dan Propala memperlihatkan keberpihakan Harita Nickel pada pemberdayaan perempuan, kelompok yang kerap menjadi penopang ekonomi keluarga namun terpinggirkan dari rantai produksi utama. Melalui pelatihan, akses pasar, dan pendampingan, Harita membuka ruang bagi perempuan untuk bangkit dengan kemampuan dan kemandiriannya.
Inilah wujud CSR yang hidup bukan sekadar dokumen laporan atau pencitraan korporasi, melainkan denyut nyata dari ekonomi rakyat yang tumbuh bersama industri.














Komentar