TERNATE. — Ini pertanyaan yang paling mengusik nalar publik Maluku Utara hari ini:
Kenapa Hotel Bela?
Hotel bintang empat yang ikonik, jadi andalan pariwisata Ternate, tiba-tiba berubah fungsi. Dari tempat wisatawan check-in, menjadi tempat pendemo berorasi. Dari lobi marmer, menjadi mimbar tuntutan rakyat.
Ada apa dengan Hotel Bela?
1. KARENA DI SANA ADA 2 JABATAN YANG BERTABRAKAN: GUBERNUR DAN OWNER
Jawabannya sederhana dan sekaligus rumit: Karena pemiliknya adalah Gubernur Sherly Tjoanda.
Sherly adalah pemilik Hotel Bela. Warisan almarhum suaminya, Benny Laos.
Sherly juga Gubernur Maluku Utara. Pemegang mandat tertinggi eksekutif provinsi.
Masalahnya muncul di titik temu itu.
Ketika “rumah dinas” bergeser dari Sofifi ke Hotel Bela. Ketika rapat-rapat resmi, penerimaan tamu, koordinasi SKPD, sampai lobi-lobi proyek “ditarik” ke hotel milik pribadi Gubernur.
Mari kita simak pernyataan salah satu pendemo “kami melakukan aksi demo di hotel Bella karena kami tahu Gubernur menetap di sini”ujarnya tegas namun sayang enggan diberitakan namanya.
Pertanyaannya lalu: Ini rapat pemerintah, atau rapat di tempat usaha keluarga?
1. HOTEL BELLA: EPISENTRUM LOBI PROYEK?
Opini Arsad Sadik Sangaji menyebutnya dengan gamblang: Hotel Bela sebagai episentrum atau pusat getaran lobi proyek.
Analoginya kasar tapi nyata. Di mana ada pemegang kuasa, di situ para pelobi berkumpul.
Jika Gubernur berkantor di Hotel Bela, maka kontraktor, pengusaha, pemegang proyek juga akan “nongkrong” di Hotel Bela.




Komentar