oleh

Sosio-Puasa | Hari-15/16 : KAFE PUASA

Oleh : M.Guntur Alting

Di antara kepungan gedung tinggi dan deru mesin yang tak pernah lelah.

Jakarta melipat waktu dalam secangkir “latte” dan pendar layar. Tak ada lagi debu pasar kaget atau keriuhan bocah di gang sempit.

Kini, doa-doa menunggu di atas meja kayu yang dipelitur rapi. Di bawah lampu gantung yang berpendar kuning temaram.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Sebuah notifikasi menjadi penanda lebih dulu dari azan. Tangan-tangan sibuk menata piring, bukan demi suapan pertama. Melainkan demi sudut gambar yang sempurna di panggung digital.

Kita adalah penunggu yang gelisah. Mencari takwa di antara status sosial dan rasa haus yang tertahan.

Ini bukan sekadar tentang membatalkan lapar. Ini adalah ritual baru di ruang ketiga. Di mana kesalehan dan gaya hidup berdansa. Dalam dialektika yang tak kunjung usai.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

–000–

Fenomena menunggu waktu berbuka puasa, atau “ngabuburit,” telah mengalami transformasi sosiologis yang signifikan di kota megapolitan seperti Jakarta.

Jika dahulu, ritual ini identik dengan jalan-jalan sore di sekitar lingkungan rumah atau berburu takjil di pasar kaget, kini kafe-kafe di pusat bisnis dan gaya hidup telah menjadi lokus utama bagi masyarakat urban.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari-19/20 : PARADOKS NIAT

Secara sosiologis, fenomena ini bukan sekadar perpindahan ruang fisik, melainkan manifestasi dari pergeseran struktur sosial, pola konsumsi, dan pencarian identitas masyarakat modern.

–000–

Dramaturgi dan Pengelolaan Kesan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *