oleh

MENGENANG FENDI ABDURRAHMAN – Dari Gurabati Menuju Keabadian


Di toko kecil di sudut Gurabati itu, ia belajar tentang arti kepercayaan, ketekunan, dan ketelitian dalam hitungan hidup.

-000-

​Pertemuan kembali bertahun-tahun kemudian di Tidore menyadarkan kita betapa waktu bergerak begitu senyap, mengubah raga, namun menyisakan esensi kepribadian yang tetap utuh.

Fendi yang dulu bertubuh subur bertransformasi menjadi sosok lelaki dewasa yang sigap dan matang.

Interaksi singkat di Mareku dan rumahnya menghadirkan rasa haru yang halus; betapa waktu dapat memisahkan jarak geografis dan kesibukan dunia. Namun akar ikatan emosional masa kecil tetap berpaut erat dalam ingatan kolektif urang basudara.

Baca Juga  MENENUN SUNYI, MERAWAT INGATAN -Membaca Siklus Manusia dalam Lagu "Shiki no Uta"

​Kini, ketika nama Fendi Abdurrahman berpulang ke haribaan Sang Pencipta. Kenangan itu menjelma menjadi sebuah kontemplasi mendalam tentang kefanaan.

Hidup ini ternyata tidak lebih dari singgahan singkat—seperti riuh rendahnya penonton di pinggir lapangan Gurabati Open Tournament, atau lelahnya langkah menapaki kebun di Samafu yang berbuah manis.

Fendi telah menyelesaikan babak perjalanannya di dunia ini dengan meninggalkan jejak kebaikan, kecerdasan, dan senyum ramah yang senantiasa membekas di hati mereka yang pernah mengenalnya.

Baca Juga  MERAJUT TASBIH ASAP DI LANGIT TERNATE

-000-

​Bagi kita yang masih tertinggal, napas ini masih berhembus untuk melanjutkan sisa hari.

Kepergian Fendi menyisakan satu pesan telak: bahwa pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak harta yang kita tumpuk, melainkan seberapa dalam nama kita dikenang dengan senyum dan doa oleh orang-orang yang pernah kita temui di tikungan jalan.

Baca Juga  GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM

​Selamat jalan, Adik Fendi

Dari tanah Gurabati engkau bermula, dan dalam keabadian kenangan kami, engkau akan terus bernyawa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *