oleh

MERAJUT TASBIH ASAP DI LANGIT TERNATE


 

Oleh: M.Guntur Alting

​”Kullu nafsin dzaaiqatul maut…”
Dan barangkali, di hari-hari ini, kita juga harus menambahkan:

“Setiap jiwa di negeri ini pada akhirnya akan mengecap “rasa” dari apa yang dibakar oleh tangan-tangan kita sendiri.”

​Konon, orang-orang tua kita sering berpesan agar kita senantiasa memerhatikan apa yang kita hirup dan apa yang kita ucapkan.

Baca Juga  CATATAN REDAKSI ! MBG, Strategi SDM dan Kemandirian Bangsa: Saat Piring Anak Sekolah Jadi Mesin Ekonomi Lokal

Sebab, napas adalah karunia paling sunyi yang sering dilupakan manusia.

Namun, cobalah tengok Ternate pada pertengahan Oktober 2026 ini. Kota rempah yang dalam sejarahnya begitu murah hati menebar “wangi” cengkeh dan pala ke penjuru dunia, mendadak harus tersengal-sengal.

Alih-alih wangi semerbak, paru-paru warganya dipaksa menelan “jelaga.”

​Mari kita merenung sejenak dengan nalar yang jernih.

Baca Juga  "Cincin Api Bergetar": 7 Gunung di Indonesia Erupsi di Awal September, PVMBG Imbau Tetap Tenang

“Dari mana datangnya asap pekat yang meredupkan cahaya di bawah kaki Gunung Gamalama itu?”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *