Oleh: M.Guntur Alting
”Kullu nafsin dzaaiqatul maut…”
Dan barangkali, di hari-hari ini, kita juga harus menambahkan:
“Setiap jiwa di negeri ini pada akhirnya akan mengecap “rasa” dari apa yang dibakar oleh tangan-tangan kita sendiri.”
Konon, orang-orang tua kita sering berpesan agar kita senantiasa memerhatikan apa yang kita hirup dan apa yang kita ucapkan.
Sebab, napas adalah karunia paling sunyi yang sering dilupakan manusia.
Namun, cobalah tengok Ternate pada pertengahan Oktober 2026 ini. Kota rempah yang dalam sejarahnya begitu murah hati menebar “wangi” cengkeh dan pala ke penjuru dunia, mendadak harus tersengal-sengal.
Alih-alih wangi semerbak, paru-paru warganya dipaksa menelan “jelaga.”
Mari kita merenung sejenak dengan nalar yang jernih.
“Dari mana datangnya asap pekat yang meredupkan cahaya di bawah kaki Gunung Gamalama itu?”









Komentar