M.Guntur Alting
—
KEMARIN, di sudut gedung kedokteran yang sunyi. Saya membiarkan diri hanyut oleh alunan syahdu lagu Jepang, ‘Shiki no Uta’ yang menjadi ‘back sound’ tulisan ini.
Lagu empat musim ini melalui interpretasi vokal yang jernih dan penuh rasa dari sang penyanyi ‘Sakairi Shimai.’
Lagu itu pendek, hanya tiga menit lebih sedikit.
Tapi dalam durasi yang ringkas itu, ia membentangkan sebuah lanskap batin yang intim, mengajak kita menengok kembali perjalanan hidup yang sering kali luput dari perenungan, bagaimana manusia bertumbuh, diuji, merelakan, dan akhirnya “pulang.”
Kita kerap memandang pergantian empat musim—semi, panas, gugur, dan dingin—hanya sebagai siklus meteorologis di belahan bumi yang jauh.
Namun, di tangan penyair dan pembuat lagu ini, alam diterjemahkan menjadi cermin paling jujur bagi riwayat jiwa manusia.
Di negeri-negeri utara, musim bukan sekadar urusan suhu udara atau pakaian tebal yang dikeluarkan dari lemari. Ia adalah metafora paling purba tentang riwayat manusia.
Dan lagu ini—dengan kesahajaan nadanya—membaca empat musim itu sebagai babak-babak eksistensial yang mau tidak mau harus kita lewati.
-000-
Bermula dari Musim Semi.
Musim semi, dalam bait-bait lagu itu, hadir bukan dengan gegap gempita, melainkan sebagai sekuntum bunga violet yang merekah malu-malu di balik rumpun rumput.
Ia rapuh, lembut, dan sekejap mata bisa layu jika diinjak. Di sinilah metafora itu menemukan bentuknya: musim semi adalah masa muda kita.
Masa ketika darah masih berdesir kencang, ketika kawan-kawan datang dengan tawa yang tulus tanpa reserve, dan ikatan sosial dibentuk di atas kepolosan yang belum dijamah oleh kalkulasi untung-rugi dunia.
Kita semua pernah berada di sana—di titik ketika hidup terasa sebagai hamparan padang rumput yang wangi, di mana masa depan tampak begitu lapang dan kematian hanyalah cerita fiksi milik orang tua.









Komentar