Oleh: M. Guntur Alting
—
NEGERI kita ini memang tidak pernah kehabisan akal untuk melahirkan hal-hal unik.
Kemarin-kemarin kita disuguhi berbagai macam jurus politik, sekarang muncul lagi barang baru, buku berjudul “Islam Ala Prabowo.”
Fantastis.
Jujur, saya belum baca keseluruhan isi bukunya, saya baru membaca ringkasannya di linimasa yang lagi viral, bahasanya tingkat tinggi.
Ketegasan Prabowo disamakan dengan Umar bin Khattab. Keberaniannya dibilang mirip Khalid bin Walid. Kebijakannya disebut-sebut menyerupai Umar bin Abdul Aziz.
Sebuah pujian yang kalau dibaca, kita bisa merinding seketika. Rasanya sudah seperti sahabat Nabi yang turun ke bumi Indonesia.
Dengan kata lain, buku ini mencoba merajut sisi-sisi keimanan seorang kepala negara. Yang berisi sebuah lembar pujian yang megah, meminjam keagungan sejarah masa silam untuk diberi jubah pada kekuasaan hari ini.
Namun, di situlah letak soalnya.
Sejak kapan agama menjelma menjadi merek dagang?
Sejak kapan keyakinan privat seorang manusia—terlebih ia yang duduk di singgasana kekuasaan—perlu diberi embel-embel nama, dikemas dalam kotak pameran, lalu disorongkan ke hadapan publik sebagai sebuah model?
–000-
Kita hidup di negeri di mana simbol-simbol keagamaan sering kali sagat mudah diobral demi melicinkan jalan legitimasi.
Padahal, Islam bukanlah milik istana, bukan pula ideologi cadangan yang bisa “dicocoklogikan” dengan gaya memimpin seorang politikus.









Komentar