Oleh: MOHAMMAD A. ADAM
ANAK NEGERI MOLOKU KIERAHA
Apa arti sebuah nama bila nama itu telah digunakan untuk menunjuk tempat lain? Itulah pertanyaan yang menggantung di langit negeri Almulkiyah, di jazirah dan gugusan pulau dari tanjung sopi hingga tanjung waigai dan dari pulau Mayau hingga pulau Sain, hari ini. Kita hidup di sebuah provinsi bernama Maluku Utara. Sebuah nama yang terdengar logis secara peta, di utara dari Maluku. Namun sangat keliru secara sejarah. Kita adalah pemilik asli nama Maluku itu sendiri, tapi kita dipaksa memakai nama “Utara dari diri kita sendiri”.
Untuk meluruskan kekeliruan ini, opini ini tidak menawarkan satu nama, tapi beberapa pilihan restorasi yang semuanya berakar pada jejak sejarah Kesultanan dan penjajahan Eropa. Semua pilihan ini bermuara pada satu titik nol: tahun 1322.
I. TITIK NOL 1322: KESULTANAN ALMAKIYAH – IBU DARI SEGALA KESULTANAN
Jauh sebelum Indonesia ada, di puncak Gunung Kie Besi, Pulau Makian Timur, berdiri kerajaan bernama Almakiyah. Catatan Francois Valentijn 1724, Hikayat Bikusigara, dan jurnal La Raman & Jamin Safi sepakat: Kerajaan Almakiyah didirikan pada tahun 1322. Raja pertamanya bergelar Maharaja yang Berkuasa di Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik, bernama Said Muhammad Bakir atau Alauddin I.
Karena ancaman letusan Kie Besi, pusat kerajaan pindah dari Makian Timur ke Kasiruta, lalu menetap di Pulau Bacan. Rakyat Makian ikut bersama rajanya. Inilah Kesultanan Bacan, kerajaan tertua di Maluku Utara. Sebelum Ternate dan Tidore mendominasi, Bacan adalah kerajaan terkuat, dengan wilayah vasal dari Utara Seram hingga Papua Barat, sebagai pemasok pangan untuk seluruh Moloku.
Raja pertama yang memeluk Islam adalah Zainal Abidin pada 1521. Peninggalannya masih ada: Masjid Kesultanan di Amasing. Jadi 1322 adalah tahun lahir peradaban kita. Kita bukan provinsi 26 tahun, kita peradaban 704 tahun.
II. MOLOKU KIE RAHA: DEFINISI ASLI KATA MALUKU















Komentar