“Ketergantungan pada satu koridor industri membuat struktur ekonomi daerah rentan. Bioetanol bisa membuka sumber pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif,” kata Kamal.
Meski demikian, ia mengingatkan tiga tantangan utama.
Pertama, jaminan bahan baku tanpa mengganggu ketahanan pangan. Singkong, jagung, tebu, dan sagu memiliki fungsi pangan dan budaya yang berbeda di setiap pulau. Pemerintah diminta tidak menetapkan target tanpa pemetaan lahan dan produktivitas.
“Kedaulatan energi tidak dapat dibangun dengan mengorbankan kedaulatan pangan,” tegasnya.
Kedua, tantangan skala industri dan logistik kepulauan. Bahan baku pertanian bersifat besar volumenya dan cepat rusak. Pabrik yang terlalu terpusat akan membebankan biaya angkut tinggi bagi petani antar-pulau.
Kamal mendorong pembangunan klaster agroindustri regional yang menghubungkan kebun, fasilitas pengumpulan, pengeringan, fermentasi, hingga pelabuhan. Ia mengacu pada pemikiran Michael Porter bahwa daya saing lahir dari produktivitas dan keterhubungan antarpelaku dalam klaster.
Ketiga, risiko monopoli agribisnis. Permintaan besar berpotensi membuat petani hanya menjadi pemasok bahan baku murah.









Komentar