oleh

Bioetanol E50 Dinilai Jadi Peluang Maluku Utara Lepas dari Ketergantungan Nikel, Namun Berisiko Bagi Petani

-HEADLINE-46 Dilihat

“Ketergantungan pada satu koridor industri membuat struktur ekonomi daerah rentan. Bioetanol bisa membuka sumber pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif,” kata Kamal.

Meski demikian, ia mengingatkan tiga tantangan utama.

Pertama, jaminan bahan baku tanpa mengganggu ketahanan pangan. Singkong, jagung, tebu, dan sagu memiliki fungsi pangan dan budaya yang berbeda di setiap pulau. Pemerintah diminta tidak menetapkan target tanpa pemetaan lahan dan produktivitas.

Baca Juga  SOROTAN ! Maluku Utara Kaya Raya di Atas Kertas, Miskin di Pesisir: Infrastruktur Hanya Jadi Koridor Ekstraksi Nikel

“Kedaulatan energi tidak dapat dibangun dengan mengorbankan kedaulatan pangan,” tegasnya.

Kedua, tantangan skala industri dan logistik kepulauan. Bahan baku pertanian bersifat besar volumenya dan cepat rusak. Pabrik yang terlalu terpusat akan membebankan biaya angkut tinggi bagi petani antar-pulau.

Kamal mendorong pembangunan klaster agroindustri regional yang menghubungkan kebun, fasilitas pengumpulan, pengeringan, fermentasi, hingga pelabuhan. Ia mengacu pada pemikiran Michael Porter bahwa daya saing lahir dari produktivitas dan keterhubungan antarpelaku dalam klaster.

Baca Juga  Gibran Tak Segera Dilengserkan, Muslim Arbi: Bisa Memunculkan Instabilitas Keamanan dan Politik

Ketiga, risiko monopoli agribisnis. Permintaan besar berpotensi membuat petani hanya menjadi pemasok bahan baku murah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *