oleh

GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM


 

– Mengenang Putra Bung Karno dan Sang Maestro Kebudayaan (1953–2026)

​Oleh: M. Guntur Alting
—
​TIBA-TIBA saja berita itu datang. Guruh Soekarnoputra dipanggil Yang Maha Kuasa.

Banyak yang kaget, banyak yang berduka, terutama warga banteng. PDIP kehilangan salah satu pejuang partai dan sosok “Marhaenis” sejati.

Baca Juga  Menghitung Kekuatan Di Luar Istana — Tony Rosyid/Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

​Tapi bagi saya, Guruh itu sosok yang unik. ​Ia putra Proklamator, anak bungsu Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Lahir dari keluarga yang menentukan jalan sejarah bangsa ini.

Kalau mau, Guruh bisa saja memilih jalur politik yang garang. Jadi ketua partai, berburu jabatan menteri, atau sibuk manuver di panggung kekuasaan.

​Tapi Guruh tidak memilih jalan itu.
​Ia memilih jalan budaya. Jalan yang sering dianggap sepi oleh para politisi, tapi justru paling membekas di hati rakyat.

Baca Juga  27 Maluku Utara, Panggung Kekayaan Cina (Tiongkok) dan Rakyat Malut Miskin — Oleh: Arsad Sangadji, Ketum FPPPMU, Aktivis dan Pemerhati Sosial

-000-

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *