oleh

GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM


 

– Mengenang Putra Bung Karno dan Sang Maestro Kebudayaan (1953–2026)

​Oleh: M. Guntur Alting
—
​TIBA-TIBA saja berita itu datang. Guruh Soekarnoputra dipanggil Yang Maha Kuasa.

Banyak yang kaget, banyak yang berduka, terutama warga banteng. PDIP kehilangan salah satu pejuang partai dan sosok “Marhaenis” sejati.

Baca Juga  AMENDEMEN UUD 1945 DAN LAHIRNYA POLITIK DINASTI: MASALAHNYA BUKAN SEKADAR BAPAK–ANAK, TETAPI DESAIN KONSTITUSI

​Tapi bagi saya, Guruh itu sosok yang unik. ​Ia putra Proklamator, anak bungsu Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Lahir dari keluarga yang menentukan jalan sejarah bangsa ini.

Kalau mau, Guruh bisa saja memilih jalur politik yang garang. Jadi ketua partai, berburu jabatan menteri, atau sibuk manuver di panggung kekuasaan.

​Tapi Guruh tidak memilih jalan itu.
​Ia memilih jalan budaya. Jalan yang sering dianggap sepi oleh para politisi, tapi justru paling membekas di hati rakyat.

Baca Juga  LEGITIMASI, KEKUASAAN DAN KONSTITUSI — Oleh: Gunawan Adji

-000-

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *