“Melalui skema KAD ini, pasokan telur ayam ke Ternate diharapkan dapat terjamin secara berkelanjutan dengan harga yang lebih terjangkau dan transparan,” ujar Rizal Marsaol di sela kegiatan.
Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemkab Blitar atas keterbukaan dan dukungan. Bagi Rizal, ini bentuk nyata sinergi antardaerah yang selama ini hanya jadi wacana.
Memotong Jalur Panjang, Menjaga Stabilitas Dapur Warta
Selama ini rantai pasok telur ke Ternate panjang dan mahal. Dari Blitar ke Surabaya, naik kapal ke Bitung atau Makassar, baru diteruskan ke Ternate. Di tiap titik ada biaya bongkar, sewa cold storage, dan margin pedagang.
Lewat KAD, Pemkot Ternate ingin memotong jalur itu. Targetnya: harga lebih stabil, stok aman, dan distribusi lebih lancar.
“Ini sekaligus memperkuat koordinasi TPID dalam menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif antarwilayah,” jelas Rizal Marsaoly.
Agenda di Candi Simping tidak berhenti di tanda tangan. Ada diskusi teknis alot antara TPID Ternate, Pemkab Blitar, dan para pelaku usaha dari dua daerah. Mereka membahas soal mekanisme pengiriman, jadwal kapal, standar mutu, sampai harga acuan di tingkat pedagang.
Dua Kota, Satu Dapur
Bagi warga Ternate, telur bukan barang mewah. Telur adalah lauk paling dasar. Saat harga telur naik Rp5.000 per kg, dampaknya langsung ke warung, ke rumah makan, sampai ke menu anak sekolah.









Komentar