Muslim melihat munculnya ide federal bukan tanpa sebab. Ia menilai itu adalah bentuk kekecewaan daerah terhadap pelaksanaan otonomi.
“Dalam amatan saya, ide federal lebih ditujukan pada lemahnya pelaksanaan otonomi daerah. Di mana kekuasaan daerah semakin dipreteli pemerintah sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah pusat merespons wacana ini dengan kepala dingin dan kebijakan konstruktif, bukan dengan stigma makar.
“Itu saja sih ruh dari ide federal ini. Ya pemerintah harus merespon ini dengan cerdas,” pungkasnya.
Pernyataan Muslim Arbi menambah warna dalam diskursus desentralisasi di Indonesia. Di tengah daerah yang merasa tertinggal, wacana federal kembali mengemuka sebagai kritik terhadap sentralisasi kekuasaan.















Komentar