Di sisi lain, ada setidaknya empat kekuatan di luar istana yang berkepentingan jika Prabowo tidak lanjut periode kedua. Empat kekuatan itu adalah pertama, Jokowi dan Geng Solo-nya. Geng Solo itu PSI, Gibran yang sedang duduk di kursi wapres, pendukung Jokowi yang masih ada di Polri dan TNI, juga sebagian taipan yang ikut besar bersama kekuasaan Jokowi selama dua periode. Selain basis massa Jokowi yang masih cukup kuat, terutama di wilayah “kaum abangan”.
Kedua, Megawati dan PDIP sebagai partai pemenang pemilu dan terbesar jumlah kursinya di DPR RI. Megawati menegaskan posisi PDIP sebagai partai penyeimbang, setelah disentil oleh Jazilul Fawaid, ketua Fraksi PKB. PDIP punya kader bernama Puan Maharani yang saat ini menjadi ketua DPR RI. Posisi yang sangat strategis jika ada situasi bangsa yang tidak kondusif. Meski rumor yang beredar bahwa Puan tersandera. Dalam situasi dharurat, penyanderaan terhadap Puan, jika itu ada, tidak akan berlaku lagi.
Ketiga, ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan partai Demokratnya. Publik membaca ambisi SBY untuk menjadikan anaknya presiden, atau minimal wakil presiden. Ini naluri wajar seorang ayah politisi. Sebagaimana juga Jokowi yang ingin anak-anak dan menantunya sukses di dunia politik.
Keempat, Anies Baswedan yang elektabilitasnya terus membuntuti Prabowo. Ingat Prabowo, ingat Anies. Begitu publik mempersepsi. Anies telah diposisikan publik menjadi tokoh oposisi paling kuat. Bahasa sederhananya, Anies adalah icon oposisi bagi Prabowo.
Di belakang Anies ada sejumlah tokoh besar, partai yang potensial memberi dukungan, juga basis massa yang cukup militan.














Komentar