oleh

PEREMPUAN, API YANG TAK PERNAH PADAM DI DALAM SEJARAH (Sebuah Tanggapan atas Gagasan Jacob Ereste)


Mereka adalah puisi yang tidak ditulis—tetapi hidup dalam denyut nadi bangsa ini.

Sejarah, sayangnya, sering kali seperti cermin retak: ia memantulkan wajah, tetapi tidak utuh. Ada bagian yang diperbesar, ada pula yang disembunyikan. Dan dalam retakan itulah, perempuan-perempuan pejuang sering terjatuh ke dalam sunyi yang panjang.

Baca Juga  “Kudeta Halus" Terhadap Calon Presiden

Mengapa hanya satu nama yang diagungkan, sementara yang lain seperti dikubur dalam tanah ingatan?

Apakah karena mereka tidak menulis dalam bahasa yang dimengerti penjajah?
Ataukah karena mereka tidak lahir dari ruang sosial yang dianggap “layak” untuk dikenang?

Di sinilah kita harus jujur: sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Ia adalah medan tafsir, tempat kekuasaan dan identitas sering bermain petak umpet.

Baca Juga  CATATAN RINGAN : SEMI FINAL PILDUN 2026 ARGENTINA VS INGGRIS FINAL DINI SARAT SENSASI

Perempuan Indonesia bukan hanya simbol emansipasi dalam ruang domestik atau pendidikan. Mereka adalah tiang-tiang tak terlihat dari republik ini. Mereka adalah rahim yang melahirkan pejuang, tangan yang merawat luka, dan jiwa yang tak pernah tunduk meski dunia mencoba merendahkan mereka.

Di dapur, mereka meramu kekuatan.
Di medan perang, mereka menjelma badai.
Di balik layar, mereka adalah arsitek diam dari kemerdekaan.

Baca Juga  BLOK MASELA: Akhirnya Presiden Prabowo Mengeksekusinya — Membangun Kedaulatan Migas melalui Spirit Pasal 33 UUD 1945

Namun, sejarah sering hanya mencatat yang tampak di permukaan—seperti laut yang indah, tetapi lupa pada arus dalam yang menentukan arah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *