oleh

MENAKAR “LABBAYTUM AWARD” DAN WAJAH PELAYANAN HAJI KITA


Kehangatan pelayanan, kecepatan respons saat ada jemaah yang tersesat, dan kenyamanan di Arafah—hal-hal semacam itulah yang sebenarnya paling diingat oleh jemaah.

Penghargaan itu hanyalah pengakuan formal atas apa yang sebenarnya sudah dirasakan di hati para jemaah.

​Jika kita masih saja bangga dengan jumlah jemaah yang besar tanpa dibarengi dengan kualitas layanan yang prima, maka kita sedang terjebak pada angka-angka semu.

Baca Juga  OPINI KRITIS :“Sindiran Berkelas Prabowo: Gubernur Bukan Ajang Piala Citra”

-00-

Haji adalah ibadah. Dan dalam ibadah, kemudahan bagi setiap individu adalah bagian dari kemuliaan yang harus diusahakan.

​Pemerintah punya waktu untuk berbenah. Menjadikan apresiasi Saudi sebagai “bahan bakar” perbaikan adalah langkah yang bijak.

Namun, yang lebih penting adalah mendengar suara-suara lirih dari jemaah yang mungkin selama ini tertutup oleh riuhnya laporan keberhasilan di meja-meja birokrasi.

Baca Juga  Kapitalisme, Liberalisme, Hingga Materialisme vs Pancasila Dalam P4 dan BPIP — Jacob Ereste

Sebab, pada akhirnya, ukuran tertinggi dari sebuah pelayanan haji bukan terletak pada piala yang diberikan di Riyadh, melainkan pada kemudahan seorang jemaah dalam bersujud dengan tenang di depan Ka’bah.

​Mari kita belajar lagi. Dari Malaysia, dari Singapura, dan dari kegagalan kita sendiri. Karena menjadi besar itu mudah, tapi menjadi yang terbaik dalam pelayanan, itulah yang membutuhkan kedewasaan sistem dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *