oleh

Dari Allah, Kembali kepada Allah, Dr.Syahrir Ibnu : Muharram sebagai Momentum Menata Ulang Perjalanan Hidup


TERNATE —Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid At-Taubah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jambula berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh makna. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.00 WIT tersebut menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang bertujuan memperkuat kesadaran spiritual, membangun optimisme, serta menumbuhkan semangat perubahan diri bagi warga binaan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan penuh penghayatan. Lantunan ayat suci yang menggema di dalam Masjid At-Taubah menghadirkan suasana tenang dan reflektif, mengajak seluruh peserta memasuki momentum Muharram dengan hati yang lebih terbuka dan penuh kesadaran.

Setelah pembacaan Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan laporan panitia serta sambutan dari pihak Lapas Kelas IIA Jambula yang diwakili oleh pejabat yang ditunjuk. Dalam sambutannya disampaikan bahwa pembinaan keagamaan merupakan bagian penting dari proses pembinaan warga binaan, tidak hanya untuk memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.

Selanjutnya, seluruh peserta mengikuti zikir dan doa bersama yang berlangsung dalam suasana khusyuk. Bacaan istighfar, tasbih, tahmid, dan doa-doa yang dipanjatkan secara berjamaah menjadi pengingat akan pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah SWT, sekaligus menjadi sarana untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui.

Momentum Muharram pada hakikatnya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam. Muharram merupakan ruang refleksi yang mengajak setiap muslim untuk meninjau kembali perjalanan hidupnya, mengevaluasi langkah-langkah yang telah ditempuh, dan memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga  Catatan Om Pala : Presiden, Konstitusi, Nusantara Satu Harga, dan KMP

Dalam penyampaian hikmah Muharram bertema Perjalanan Panjang Seorang Hamba. Dari Allah, Kembali kepada Allah, peserta diajak memahami bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan sebuah perjalanan spiritual yang panjang. Sebelum hadir di dunia, manusia telah mengenal Tuhannya dan bersaksi atas keesaan-Nya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Kehidupan yang dijalani saat ini merupakan bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pesan tersebut diperkuat dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan setiap orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan yang akan datang. Ayat ini mengajarkan bahwa perjalanan hidup tidak hanya diukur dari bertambahnya usia atau pencapaian duniawi, tetapi juga dari kualitas amal dan kontribusi yang diberikan selama menjalani kehidupan.

Refleksi tersebut membawa peserta pada pemahaman bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah dan tumbuh melalui beragam pengalaman hidup. Dalam perjalanan itu, manusia akan berhadapan dengan berbagai ujian, tantangan, harapan, dan pelajaran yang membentuk kedewasaan dirinya. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya bebas dari kesulitan, sebagaimana tidak ada perjalanan yang selalu berjalan sesuai harapan.

Karena itu, ujian kehidupan tidak selalu harus dipandang sebagai hambatan. Dalam banyak keadaan, ujian justru menjadi sarana pembelajaran yang membantu seseorang memahami dirinya secara lebih mendalam, memperkuat kesabaran, dan menumbuhkan kedekatan dengan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Insyirah, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Baca Juga  Budaya Rente dalam Politik Balas Jasa dan Saling Sandera Menyandera

Di lingkungan lembaga pemasyarakatan, pesan tersebut memiliki makna yang sangat relevan. Masa pembinaan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat aspek spiritual, memperbaiki kualitas diri, serta menata kembali orientasi kehidupan. Proses pembinaan yang dijalani tidak semata-mata berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai moral.

Muharram juga mengajarkan makna hijrah yang lebih luas. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan sikap, cara pandang, dan kesadaran hidup. Hijrah adalah keberanian untuk meninggalkan hal-hal yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Dalam refleksi tersebut ditegaskan bahwa masa lalu tidak harus menjadi beban yang menghalangi seseorang untuk melangkah maju. Setiap manusia memiliki ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun masa depan yang lebih baik. Islam mengajarkan bahwa pintu taubat dan perbaikan diri selalu terbuka selama manusia memiliki kesungguhan untuk berubah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan ini selaras dengan nasihat Umar bin Khattab yang masyhur, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.” Muharram menjadi pengingat pentingnya muhasabah atau evaluasi diri sebagai bagian dari proses pertumbuhan seorang mukmin. Dengan melakukan refleksi, seseorang dapat melihat kembali perjalanan hidupnya secara jernih dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk memperbaiki masa depan.

Baca Juga  “Kepala Daerah Ence”: Ketika Oligarki Lokal Menggantikan Negara di Desa

Setelah penyampaian hikmah Muharram, kegiatan dilanjutkan dengan dialog ringan yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh keterbukaan. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan dan pertanyaan seputar makna perubahan diri, pentingnya menjaga harapan, serta upaya membangun kehidupan yang lebih baik melalui pendekatan spiritual dan keagamaan.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai agama tidak pernah berhenti. Dalam setiap fase kehidupan, manusia membutuhkan ruang untuk belajar, merenung, dan menemukan makna dari berbagai pengalaman yang dijalaninya.

Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pelaksanaan Shalat Dhuhur berjamaah di Masjid At-Taubah. Kebersamaan dalam ibadah menjadi penutup yang memperkuat pesan utama kegiatan, bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Jambula pada akhirnya menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam. Kehidupan adalah perjalanan panjang yang dipenuhi dengan pelajaran, ujian, dan kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Muharram mengingatkan bahwa setiap perjalanan selalu memiliki arah, dan arah terbaik bagi seorang hamba adalah kembali mendekat kepada Allah SWT dengan hati yang lebih jernih, kesadaran yang lebih kuat, serta tekad untuk terus memperbaiki diri.

Melalui kegiatan ini, semangat Muharram diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan semata, tetapi menjadi energi moral dan spiritual yang terus menginspirasi lahirnya optimisme, perubahan, dan harapan dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna di masa mendatang.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *