Oleh: M.Guntur Alting
Mungkin kita terlalu sering merayakan sekolah sebagai sebuah “monumen,” padahal ia seharusnya adalah sebuah “perjalanan.”
Setiap tanggal 2 Mei, kita berbaris, mengenang seorang lelaki bernama Ki Hadjar, sembari memakai seragam yang kaku—seolah-olah dengan kerapihan itu, kegelapan di kepala kita otomatis sirna.
Namun, benarkah pendidikan adalah sebuah upacara?
Dalam sejarah yang panjang, pendidikan sering kali menjadi usaha untuk “menjinakkan”. Kita membawa anak-anak dari riuhnya padang bermain ke dalam kotak-kotak kelas yang persegi.
Di sana, mereka diminta duduk diam, mendengarkan kebenaran yang sudah dipaketkan dalam kurikulum, dan diuji dengan soal-soal pilihan ganda yang tidak memberi ruang bagi keraguan.
Padahal, pengetahuan yang sejati selalu bermula dari keraguan.
Kita sering lupa bahwa kata “educere”, akar dari pendidikan, berarti “menuntun keluar”. Ia bukan “memasukkan” sesuatu ke dalam kepala, melainkan mengeluarkan potensi yang tersembunyi.











Komentar